Saat Dia Berpaling…

Posted on 5 September 2006

0


Akhirnya aku putuskan untuk bertanya padamu, Bang. Setelah batinku lelah terus menanggung pilu yang semakin menggunung dan menyesakkan dada. Kau sangat terkejut dan tak menyangka aku tahu sebanyak itu bukan? Pertama kali aku mengetahui tentang kalian memang belum lama, baru empat bulan lalu, ketika terbaca sms-sms mesra kalian dalam ponselmu yang tertinggal di rumah hari itu. Secara naluri, aku langsung menelpon perempuan itu, berpura-pura menanyakan sesuatu. Suara yang sangat ketus menyatakan salah sambung!

Malam ketika kau pulang, aku bertanya baik-baik padamu, Bang. Mulanya kau menyangkal. Namun setelah kutunjukkan bukti-bukti, kau menangis. Kau bilang kalian baru dekat 3 bulan saja dan hanya lewat email dan telpon. Dia curhat padamu, kau meladeni dan akhirnya kalian semakin akrab. Aku tahu kau tak pernah berdusta. Jadi ketika kau nyatakan kau bertobat dan meminta aku memaafkanmu sambil menangis, meski perih aku menerimamu kembali. Apalagi kau bilang, janda beranak dua itu, pernah mengajak bertemu tapi kau menolak. Dan menurutmu kalian belum pernah bertemu. Kau hapus segala tentangnya, juga nomornya di ponselmu.

Aku sudah tak pernah lagi mau memeriksa ponselmu, sejak peristiwa pertama itu berlalu. Bukankah sejak dulu aku memang seperti itu? Aku ingin menghargai privasimu. Aku percaya padamu. Lalu entah mengapa, sebulan lalu, perasaanku tak enak. Senja merah dan saat kau lengah, kubaca isi ponselmu. Memang tak ada sms mesra dari perempuan itu seperti dulu. Tapi seseorang bernama “Doni” mengirim sms padamu dengan gaya bahasa yang sama dengannya. Aku terhenyak dan seperti disadarkan. Mengapa, Bang? Mengapa kau jalin lagi hubungan dengannya, padahal kau sudah berjanji untuk setia padaku dan Allah setelah peristiwa pertama? Dan ia yang kau namai “Doni” adalah perempuan itu! Mengapa? Mengapa harus berdusta padaku dengan menyamarkan namanya menjadi nama lelaki?

Aku mulai mengerahkan semua panca indera, juga mata ketigaku untuk melihat hubunganmu dengannya. Tanpa setahumu, aku menyelidiki perempuan itu. Aku tahu nama, alamat, juga nomor-nomor ponselnya. Aku tahu siapa dia, mengapa ia bercerai dari suaminya, dan lain-lain. Ketika ada beberapa kali kesempatanmu menginap di kota B, kau pergi dengan sangat riang. Entah mengapa suatu hari, aku terusik dan…mengikutimu!

Aku tahu di sana kau memang benar-benar bekerja, Bang. Tapi aku merasa kau pasti pernah bertemu dengannya, setidaknya saat itu, kala aku menemukan kalian dengan mata kepalaku sendiri. Kalian makan minum bersama di tempat yang kau bahkan belum pernah mengajakku ke sana. Aku melihat caramu dan cara dia menatap satu sama lain. Dan kau tak menyadari bukan? Dengan tubuh menggigil karena kehujanan, aku berdiri di dekat jendela, lalu bergeser ke pintu dan memandang kalian dengan penuh luka…Kau, dia tertawa-tawa dengan mesranya, tanpa beban…Dadaku berdegup keras. Ingin rasanya aku melabrak kalian! Atau kalau tidak, sekadar mendatangi dan memandang kalian dengan mata lara.

Kemarin, entah mengapa aku gulana. Firasatku mengatakan ada yang tak beres. Saat kau ke kamar mandi, kulihat ponselmu. Benar, dia menghubungimu lagi! Dia bercerita bahwa dia sedang sakit dan mau ke rumah sakit bersama ibunya. Dalam sms lain ia bilang ia ingin ganti nomor ponsel karena merasa tak nyaman memikirkan mungkin aku tahu nomornya. Yang membuatku lebih tersentak adalah ketika di bagian sent yang belum sempat kau hapus, kau katakan padanya untuk menghanguskan nomor lama dan menggantinya dengan nomor CDMA seraya mengatakan kau yang akan membelikan ponselnya!

Pagi itu saat kau pamit ke kantor dan mengecupku, tubuhku bergetar menahan tangis yang nyaris meledak. Tapi kau tak membacanya…, kau memang tak pernah bisa membacaku dengan benar, Bang… Lalu kemana aku harus berbagi cerita dan meminta saran? Kebanyakan temanku lelaki. Tapi apakah aku akan mengulang jalanmu dengan curhat pada mereka, lalu jadi makin dekat dan akhirnya berpeluang besar menghancurkan rumah tangga mereka? Tidak. Aku tak pernah mau ambil resiko. Aku hanya ingat seorang teman yang menyarankanku untuk menuliskan semua beban hidup agar terasa ringan. Aku bercerita padanya. Dia mengatakan agar aku berani bicara padamu lagi. “Komunikasi adalah kunci utama keutuhan sebuah rumah tangga,” katanya.

Awalnya aku mengirim sms…sebuah doa untukmu. Kau menjawabnya dengan riang, dan mengucapkan terimakasih. Lalu kukirim sms pada sahabat perempuanku, bahwa aku mengetahui hubungan kalian lebih jauh. Tapi Allah berkehendak lain. Jari-jariku lincah mengetik sms yang kemudian malah terkirim padamu itu!

Baru setengah jam setelah itu kau membalas. Kau bilang kau tetap cinta padaku. Kau akan bertobat dan kau meminta maaf untuk kedua kalinya (tak akan ada kata maaf yang ketiga. Aku berjanji padamu dan Allah, tulis sms mu). Aku masih terguncang, namun kutahan tangis saat menatap wajah anak kita. Saat itu aku sedang di rumah sakit, memeriksakan kesehatanku dan anak kita.

Untuk pertama kalinya, kukirim sms pada dua nomor hp milik perempuan itu. Bukan amarah yang kukirim, hanya sebuah pertanyaan: Mengapa Anda memanfaatkan situasi dan terus menghubungi, mengganggu suami saya (jangan bilang anda tak memanggilnya cinta). Apa salah saya pada Anda? Tak ada jawaban. Tak pernah ada.

Malamnya kau pulang dan kita bicara baik-baik, meski aku sempat menangis sesenggukan. Aku minta kau bicara sejujurnya. Kau lebih banyak diam dan mendengarkanku dengan wajah menyesal. “Jadi apa target hubungan kalian?” tanyaku dengan suara bergetar. “Tak ada,” paparmu. “TTM…” Aku mual mendengarnya. TTM (Teman Tapi Mesra). Itu akan jadi lagu yang paling kubenci di dunia ini!

“Dulu abang bilang tak pernah bertemu dengannya. Mengapa abang berdusta? ”Kau menciumku dan berulangkali minta maaf. “Hanya mengobrol, curhat-curhatan saja. Tolong maafkan aku… ”Hatiku semakin ngilu.“Bisakah aku memaafkanmu, Bang? Mungkin bisa… tapi tidak sekarang… ”Aku lalu memintamu untuk istikharah memilih aku atau dia… Kau mendesah. “Aku tak ingin kita berpisah. Aku memilihmu. Aku masih mencintaimu,” bisikmu. “Aku tak akan berhubungan lagi dengannya, dalam bentuk apa pun.” Aku masih menangis.

Esoknya keadaan agak membaik. Kau lebih memperhatikanku dan masih terlihat menyesal. Kau bahkan mengatakan tak ingin membawa HP dan memberiku password dua email-mu. Ketika kutanya nama lengkap dan alamat email perempuan itu, kau memberikannya….Ketika berangkat kerja aku sudah berpikir , kau menyesal dan tak ingin mengulangi. Kau telah berkata sejujur-jujurnya. Maka apa yang menghalangiku untuk tak memaafkanmu? Pagi itu dari atas bis kota aku mengirim sms maafku padamu dan kau menyambut dengan sukacita. Kita mulai lagi dari awal ya…kita berjuang bersama, sayang! Kiss u! sms-mu.

Berakhir, pikirku. Berakhir…saatnya memaafkan….Sore itu, iseng saja, kubuka emailmu—hal yang tak pernah kulakukan selama belasan tahun kita menikah. Kucek semua email darinya. Tak ada. Ah, tentu saja sudah kau hapus bukan? Namun aku tak menyerah…kuteliti lagi…! Dan aku terpana, melihat tiga imel dengan id yang berbeda, tapi tetap darinya. Mungkin kau lupa menghapusnya….

Ah, ternyata banyak yang tak kutahu tentang kalian. Sampai kemarin kau masih mengatakan hubungan kalian baru bulan puasa 2005 kemarin. Namun aku menemukan email dari perempuan itu pada tahun 2004, bahkan 2003! Rasanya aku ingin pingsan! Mengapa? Mengapa Abang tak jujur padaku? Kalian sudah menjalin hubungan selama 3-4 tahun! Ya Allah, sudah sejauh mana?

Kuraih ponselku. Minggu ini juga, aku ingin bertemu denganmu dan perempuan itu, untuk membicarakan persoalan kita dan hubungan kalian yang telah empat tahunan itu. Mungkin aku memang harus pergi. Mengapa kau harus berdusta, Bang?

Tiba-tiba kepalaku pusing, Bang…aku terjatuh dan tak ingat apa-apa lagi. Lamat-lamat hanya kudengar suara anak-anak berteriak. “Panggil taxi, ibu pingsan! Ayo. Cepaaaat! Kita ke rumah sakit!” Ketika sadar, kulihat aku ada dalam dekapanmu. Kau membelai dan menciumku bertubi-tubi disertai kata-kata yang itu juga: “maaf”. Kulihat matamu basah….

Tapi aku terlalu lemas untuk menyapa. Hancur…
Aku hanya mampu bertanya lemah, “Mengapa, Bang? Mengapa?” Malam itu baru kau ceritakan semuanya secara utuh. “Aku takut kamu marah dan tak mau menerimaku lagi kalau aku ceritakan semua… ,”katamu terisak. “Aku takut… maafkan aku….” Ku hanya menatapmu dengan mata bengkak, nyaris tanpa kedipan…., “Mengapa?”

Pertemuan pertama kalian terjadi saat kau SD di sebuah kota. Kalian satu angkatan. Tapi kalian tak terlalu dekat. Sampai empat tahun lalu, saat terjadi reuni, kalian bertemu kembali. Lalu semakin akrab. Saat itu ia curhat padamu tentang suaminya yang terlibat hutang ratusan juta. Ia memintamu mencarikan pekerjaan untuk suaminya. Maka kau yang baik hati dan sebenarnya sangat sibuk pun benar-benar membantu, bahkan bolak balik ke kota B hanya untuk itu. Tapi suami perempuan tersebut benar-benar bermasalah, mereka bercerai dan kalian semakin dekat. Kau bahkan beberapa kali menginap di rumah perempuan itu!

“Tak terjadi apapun,” katamu bersumpah atas nama Allah. “Sentuhan fisik hanya terjadi saat kami bersalaman….”“Apakah aku harus percaya itu?” aku sesenggukan….“Aku sudah menceritakan semua, tak ada lagi yang kututupi,” katamu sambil membelaiku.

Aku hampa. Hambar….”Kalau kau mau pergi dari hidupku, inilah saatnya, Bang…aku rela…,” kataku pedih. “Aku juga tak mau menerimamu lagi kalau kau pernah melakukan itu dengannya….”Kau terus mendekapku. “Tidak. Kami tak pernah melakukan itu. Ya Allah, aku tak ingin kehilanganmu,” ujarmu berulangkali….“Aku tak bisa terus menerus memaafkanmu…,” lirihku sambil mengusap mataku yang memerah dan semakin membengkak..“Ini yang terakhir, yang terakhir…,”katamu sambil mendekapku lebih erat. “Aku tak akan pernah meninggalkanmu selamanya! Tak akan…”

Empat tahun. Aku ingat empat tahun terakhir inilah aku kehilanganmu, suamiku. Kau yang dikenal sangat alim, kerap sholat subuh kesiangan. Kau juga mudah tersinggung, mudah marah, malas ngobrol dan seolah tak memperhatikanku. Kau memang lebih memperhatikan penampilan, tapi tak pernah meminta saranku. Kau lebih suka main game sampai lewat tengah malam, daripada berbicara denganku. Hubungan kita benar-benar hambar dan formal. Kau selalu sibuk dengan kerja, kerja dan kerja. Empat tahun ini tak pernah kurasakan kehangatan, juga dalam hubungan suami istri yang sekadarnya itu… Empat tahun ini kau seperti bukan dirimu!

Suara kentongan berbunyi dua kali. Kau masih mendekapku erat. Saat itulah kau berkata, kau seperti disentakkan. Kau merasa hubunganmu dengan Allah buruk sekali empat tahun terakhir. Kau juga sudah jarang mengaji. ” Karena itulah aku lebih mudah tergoda dan berbuat hina seperti ini. Memalukan sekali. Maafkan aku…,aku akan memperbaiki hubunganku dengan Allah, dengamu…maafkan aku sayang…, aku sadar. Aku akan menebus empat tahun yang hilang itu. Ya Allah saksikanlah janjiku…”

from helvytr

***

comments:

abuazzam said: Subhanalloh untuk Ra yg kesabarannya seluas dan sedalam samudra.. Untuk suami Ra : ” Mas, janji mas kepada Alloh kalo ndak di tepati akan berbuntut panjang sampai ke akhirat nanti.. hati-hati Mas.. neraka-Nya amat sangat menyakitkan dan membakar.. sekali lagi, hati-hatilah Mas.. TEPATILAH janji itu”.

helvytr said: insya Allah nggak akan pernah terjadi pada kita semua ya.. amiiin.

Posted in: Oase