Kereta Ekonomi

Posted on 25 September 2006

0


“Aduh..liat jalan dong mas!” Kakiku terinjak2 lagi oleh para penjual makanan di kereta api. Belum hilang rasa nyeri terinjak penjual air mineral, kembali panas karena diseruduk penjual kacang. Ingin rasanya memaki, tapi percuma saja, orang itu tak kalah galak,” namanya juga sepur mbak, ya begini ini!”. Akhirnya kutahan marahku seraya mengambil napas dalam2. Penumpang lainnya sibuk dengan posisi masing2. Ada yang pegangan jok, pintu, bersandar kursi, ada juga yang cuma berdiri sambil pegangan telinga (becanda kok..😛 ). Tak sedikit orang yang bisa menikmati perjalanannya. Mereka ini beruntung mendapatkan tempat duduk dengan nyaman. Sampai2 ga mau bergeser sedikitpun, begitu cuek dengan sekitarnya. Aku yang berdiri disampingnya hanya dilirik doank.. hiks. Kereta melaju dengan kencang..
Hari jumat kemaren (22/09/06) aku berkunjung ke rumah kakak di tanggulangin, sidoarjo. Mumpung belum masuk puasa🙂 kebetulan kedua orangtua sedang berada di sana. Dengan memilih jadwal kereta pemberangkatan pertama yakni jam 4.30 wib. Dulu jam segitu belum banyak penumpang. Selain masih gelap juga rawan. Sekarang, begitu naik kereta ga bisa bebas memilih tempat duduk seperti dulu. Rata2 sudah terisi, lebih banyak penumpang beserta keluarganya. Selama ini selalu bersama mama kalo ke tanggulangin, kali ini sendirian. Alhamdulillah sampe di stasiun kecil tanggulangin dengan tidak kurang apapun pada jam 6.15 wib. Kakak sudah berada di stasiun untuk menjemput bersama si centil Wina, anak pertamanya. Hari pertama berlalu dengan sukacita. Di sana kuhabiskan waktu bersama Ryan, adek wina yang berumur 5,5 bulan. Alhamdulillah lokasi perum TAS-II aman dari gempuran lumpur lapindo. Kavling2 perum TAS-II yang masih kosong di sekitar rumah kakak banyak yang disewa oleh penghuni perum TAS-I yang terendam lumpur.
Esoknya, hari sabtu pagi (23/09/06) aku harus siap2 kembali ke malang dengan jadwal kereta jam 8.40 wib. Sampe dengan jam 9.15 kereta belum menampakkan batang hidungnya (emang sepur punya hidung? :P). Tiba2 ada pengumuman dari pengeras suara stasiun, memberitaukan bahwa kereta tujuan malang-blitar sudah penuh penumpang. Bagi yang tidak bisa masuk diharap tidak memaksakan diri, dan tiket bisa dikembalikan.
Begitu kereta datang, ampun deh..semua pintu sesak oleh orang yang bergantungan. Bimbang juga, tp akhirnya bertekad naik meski ga dapat tempat duduk, aku harus kembali ke malang hari itu juga karena sudah ada janji. Aku nekad nerobos pintu yang sekikit terbuka. Mungkin kasian sama aku, mas2 yang baik hati itu terpaksa membukakan pintu supaya bisa naik. (Dari perkiraan, mereka adalah pelajar yang studi di malang). Yup, aku sukses masuk meski hanya dapat tempat di pintu. Untung pintunya rapat dan kuat, sehingga bisa berdiri dengan ‘agak’ tenang.

Di stasiun Bangil, ada 3 orang yang turun. Mau ga mau harus bergeser supaya penumpang2 itu bisa keluar. Kirain hanya 3 orang, ternyata hampir 1 gerbong! Rupanya hanya di tempatku itulah satu2nya pintu yang bisa dilewati. Dengan banyaknya penumpang yang turun aku berharap bisa bernapas lega untuk mendapatkan tempat duduk. Saat masuk gerbong, ternyata full, aku hanya bisa berdiri dengan bersandar di jok kursi. Penumpang yang masuk dan keluar ternyata lebih banyak yang masuk. Dengan kondisi berjejal2 itu, para penjual makanan maupun mainan, asesoris, dll tak mau kalah nyerondol para penumpang yang berdiri. Akibatnya, seperti yang diceritakan di awal tulisan ini, orang yang imut jadi bulan2an orang lewat. Mungkin ga hanya aku, bisa jadi di gerbong lain ada yang lebih parah dariku.

Sebelum peristiwa lapindo terjadi, aku dah terbiasa menggunakan jasa kereta api setiap berkunjung ke rumah kakak di tanggulangin. Di samping lebih cepat sampai (karena rumahnya dekat stasiun), harga tiketnya juga relatif murah dibanding naik bis. Kalo naik bis akan diteruskan oper lin dan becak. Amat makan waktu dan biaya, belum capeknya. Waktu itu meski kereta selalu rame penumpang, aku selalu dapat tempat duduk, baik pada pemberangkatan pertama maupun kedua. Sejak ada banjir lumpur, bisa masuk kereta aja sudah bisa dikatakan beruntung..

Begitulah, banjir lumpur lapindo membawa pengaruh pada transportasi kereta api. Pengguna jasa kereta naik sekian kali lipat. Ini terjadi pada jalur kereta yang melewati surabaya. Ke ato dari surabaya banyak yang memilih kereta daripada bis. Kakakku beberapa kali mengalami macet 4 jam di tol surabaya-gempol saat perjalanan ke surabaya menggunakan bis. Sebenarnya lumpur lapindo dah merembes masuk rel kereta karena tanggul setinggi rumah yang berada di sisi rel itu ga mampu menahan bagian bawah.

Bersyukur bisa sampe di malang dengan selamat pada jam 12.00 wib. Perjalanan yang melelahkan, meski hanya dalam hitungan jarak tanggulangin-malang. Alhamdulillah…

***

Comments:

Nasib orang yang naik kereta ekonomi😛,gw juga baru pertama kali ngerasain yang namanya naik kereta api pas pergi ke Ngalam lewat Tulungagung.Murah sih murah,tapi lama banget selalu berhenti di stasiun trus jalannya gak cepet, bikin boring saja.

# posted by mr.bink : 25/9/06 11:50 AM

Posted in: Complaint