Keutamaan Berusaha Sendiri (1)

Posted on 11 June 2007

3


Dari Al-Miqdam ra, Nabi saw bersabda:
“Tidak seorang pun yang makan lebih baik daripada makan hasil kerja tangannya sendiri. Dan sesungguhnya NAbi Dawud as makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud dan Nasaa’i)

Bahwasanya jalan datangnya rizqi itu bisa dari mana pun sesuai kehendak Rabbul ‘Izzati. Ia bisa melalui warisan, pemberian/shadaqah, bekerja pada seseorang/pemerintahan sehingga mendapatkan gaji, berdagang, bercocok-tanam, berproduksi/industri, dlsb. Namun Rasulullah saw menjelaskan bahwa sebaik-baiknya rizqi (makanan) yang dimakan seseorang adalah yang merupakan hasil usaha tangannya sendiri, meskipun sama-sama berkedudukan halal. Sehingga jelas tidak dapat disamakan orang yang memperoleh rizqi melalui kerja keras dengan yang memperoleh rizqi dari harta warisan, shadaqah, hadiah, dan bentuk-bentuk pemberian lainnya.

Jika kita bandingkan secara logika, semua bentuk usaha yang dilakukan dengan penuh kesungguhan akan memompa semangat, mengkontraksikan otot-otot yang menjaga tubuh tetap sehat bahkan bertambah kekuatannya. Begitu juga tatkala meni’mati hasil usahanya, terasa betul ni’matnya, sehingga bisa memberikan kemanfaatan bagi tubuh.

Tidak demikian halnya dengan kemalasan yang hanya menggantungkan pada uang yang nomplok di tangannya, tanpa pernah mau menggerakkan tubuhnya untuk bekerja. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan bermalas-malasan di loteng dan cafe. Itu hanya akan menyebabkan nafsu makannya turun, semua makanan yang ditelan terasa hambar meskipun menunya mewah. Sedangkan makanan yang sudah masuk tidak dapat dicerna dengan sempurna sehingga kelesuan menjangkiti seluruh tubuh dan menurunkan kesehatannya.

Dari sini dapat dibandingkan bahwa rizqi yang didapat dari hasil jerih payah sendiri jauh lebih bernilai daripada yang datang dengan sendirinya. Rizqi hasil perahan keringat sendiri terasa lenih ni’mat dan bisa memberikan kepuasan. Adakah kita pernah merasakan buah yang dipetik langsung dari pohon rasanya sama dengan yang diambil dari pedagang, jikalau sama-sama kualitasnya secara fisik? Demikian juga dengan harta kekayaan kita. Terlebih lagi, harta kekayaan yang datang nomplok begitu saja di tangan jika terlepas susah untuk mencari gantinya. Berbeda dengan kekayaan yang didapat dari kerja keras akan susah hilangnya, jika hilang pun maka sumbernya akan selalu mengalir – ya’ni tangan yang bekerja.

Rasulullah saw menceritakan bahwa Nabi Dawud as hanya akan makan dari hasil kerjanya sendiri, ya’ni dengan membuat baju perang. Padahal banyak sedemikian luasnya fasilitas hidup yang dimiliki beliau. Dalam surah Shad ayat 26 Allah berfirman: “Wahai Dawud! Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi.”

Allah telah menundukkan gunung, burung, dan besi untuknya. Lantas Allah memberikan kekuasaan kepada beliau lantaran keberaniannya berperang melawan Jalut. Meskipun demikian, meski mempunyai kekuasaan, keberanian, Nabi Dawud tidaklah menggantungkan pada semua itu dalam hal memperoleh rizqi. Beliau lebih senang bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tidak gengsi meski hanya sebagai pembuat baju perang.

Maka hendaklah ini semua menjadikan pelajaran bagi kita. Bagi orang-orang yang kaya karena harta warisan, para penguasa dan pejabat tinggi yang merasa jijik untuk bekerja, karena takut derajatnya akan jatuh dan terhina. Sebenarnyalah tidak mengerti bahwa tangan-tangan yang menghasilkan itu adalah kekayaan terbesar bagi ummat manusia. Tanpa jasa tangan-tangan yang dianggap hina tersebut, mustahil manusia bisa melangsungkan peradabannya.

Posted in: Islam