Keutamaan Berusaha Sendiri (2)

Posted on 13 June 2007

13


Dari Abu Abdullah Az-Zubair bin Al-‘Awwam ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

“Sungguh seandainya salah seorang diantara kalian mengambil beberapa utas tali kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, maka itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka membeli atau tidak.” (diriwayatkan oleh Bukhari)

Dengan matan (redaksi) yang hampir sama, Abu Hurairah menceritakan bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

“Sungguh seandainya salah seorang diantara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau pun tidak.” (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Pada tulisan yang lalu telah dijelaskan bagaimana keutamaan berusaha/mencari rizqi dengan tangan sendiri, sampai-sampai para Nabi pun melakukannya. Kalau berusaha dengan tangan sendiri sedemikian itu keutamaan, maka begitu juga sebaliknya: meminta-minta rizqi dari orang lain mempunyai kedudukan yang rendah dan hina sekali dalam pandangan Islam.

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah swt bila menganugerahi keni’matan kepada seorang hamba, Ia senang melihat pengaruh adanya keni’matan tersebut. Dia benci sekali kepada orang yang sengsara yang senantiasa memperlihatkan kesengsaraannya. Dia juga sangat benci kepada peminta-minta yang tak henti-hentinya caranya meminta. Akan tetapi Dia sangat senang kepada orang yang berkehidupan deengan cara mulia dan tahu harga diri.” (diriwayatkan oleh Bukhari)

Sedemikian itu pandangan Allah kepada orang yang senantiasa meminta-minta. Sampai demi menjaga ummatnya, Rasulullah saw melarang untuk sekedar mengharapkan pemberian dari orang lain.

Dari Salim Bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya dari Umara ra ia berkata,

“Rasul saw memberi bagian dari sedekah kepada saya, tetapi saya menolaknya dan saya berkata: “Wahai Rasul, berikanlah kepada orang yan lebih memerlukan. “Beliau bersabda: “Terimalah, apabila harta itu mendatangimu, sedangkan kamu tidak mengharap-harapkan dan meminta, kemudian terserah kamu, boleh kamu makan atau kamu shadaqahkan. Dan yang tidak datang kepadamu janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu untuk mendapatkannya! “Salim berkata: “Setelah itu, Abdullah tidak pernah meminta sesuatupun pada orang lain dan tidak pernah menolak pemberian.” (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Jangan sampai kita meminta pada orang lain, bahkan mengharapkan datangnya pemberian dari orang lain pun haruslah kita hindari. Pemberian itu sangat berat artinya. Orang yang meminta bila diberlakukan dengan baik maka ia merasa berhutang padanya dan ingin berbuat apa saja untuk memberi. Tapi bila tidak diberi, ia akan merasa sangat malu, hina, atau malah merasa benci serta iri terhadap orang yang dimintai tadi.

Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang telah memberikan hidup tentunya telah melengkapi ciptaanNya dengan modal untuk melangsungkan kehidupannya. Kita tentu ingat, bahwa setiap ni’mat haruslah kita syukuri dan pasti akan dimintai pertanggungan jawab kelak di yaumil hisab. Perwujudan rasa syukur dari ‘kelengkapan hidup’ tersebut adalah dengan menggunakannya sesuai dengan fungsinya, diantaranya dengan berusaha mencari rizqi Allah. Orang yang meminta-minta padahal dia masih mampu untuk berusaha sendiri dapatlah dikatakan bahwa dia tidak mensyukuri kemi’matan yang berupa kelengkapan tubuh, energi, dan kesempatan yang diberikan Sang Pencipta, karena tidak menggunakannya sesuai dengan fungsinya.

Di sinilah letak ketidaksesuaian dengan akhlaq dan kepribadian orang beriman, dimana Rasulullah menjelaskan bahwa bekerja itu lebih baik daripada meinta-minta. Sangat indah beliau memberikan perumpamaan yang begitu kontras. Kebanyakan orang memandang bahwa pergi ke hutan dengan membawa tali untuk mencari keyu bakar adalah suatu pekerjaan yang hina dan kasar. Berapalah harganya nanti jika dijual di pasar, tidak sesuai dengan perahan keringat yang dikeluarkannya. Namun menurut Rasul itu lebih baik daripada meminta-minta, meskipun dia banyak memperoleh hasil dan tentu tidak mengeluarkan tenaga yang banyak. Bekerja adalah kebaikan meski sekasar apapun, sebaliknya meminta-minta adalah suatu kehinaan.

Apa yang dituntunkan Rasul saw tersebut rupanya menjadi suatu hal yang (agak) sulit untuk kita implementasikan pada kehidupan kita saat ini. Nyatanya tangan kita masih lebih enak di bawah daripada di atas, dalam hal-hal yang kecil sekalipun kita masih enggan untuk mengeluarkannya. Masya Allah, satu kenyataan bahwasanya kita belum bisa menjga hati untuk tidak mengharapkan pemberian dari orang lain.

Ditarik lebih luas, negara kita sekarang justru ‘ngemis-ngemis’ minta utangan dari orang lain. Padahal kita sadar bahwa itu semua malah akan memperparah kondisi kita, menimbulkan ketergantungan pada orang lain sehingga kita mudah untuk disetir. Kalau sudah demikian, hilanglah kemandirian kita, hilang pula kebebasan untuk menjadi diri sendiri.

Hadits di atas memotivasi kita untuk mencari rizqi meski dengan cara yang hina/kasar sekalipun menurut pandangan manusia, asalkan masih dalam koridor syar’i, serta menanamkan rasa risih untuk mengemis, memberikan kiat untuk menjaga kemuliaan dan mencegah dari kenistaan. Bukankah Allah telah meninggikan derajat kita, orang-orang mu’min. Sudah saatnya kita bangkit dari ketergantungan kepada orang lain.

“… padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya, dan bagi orang-orang mu’min.” (Al-Munafiqun: 8)

Tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah, kita mohonkan petunjuk dan kekuatan dari Dzat Yang Maha Gagah.

Posted in: Islam