Ka Te Pe

Posted on 23 January 2008

14


Sukses jadi potograper KTP, ternyata tidak sukses saat pembuatan KTP. Hari ini.. perasaan mangkel, marah, gemes.. semua jadi satu, manakala mengembalikan KTP yang sudah jadi di kantor kecamatan karena ada kesalahan tulis. Yang membuat saya mangkel bukan karena salah cetaknya karena saya memaklumi mungkin petugas data entry memang sangat sibuk dan banyak yang harus dikerjakan, KTP sak kecamatan gitu loh..

Pasalnya, pelayanan petugas loket itu lho, padahal sayah dengan sangat sopan menuturkan ada kesalahan pada KTP yang baru jadi, yakni tidak tercantumnya golongan darah dan status saya tercantum belum menikah. Mereka (2 orang) malah menyalahkan sayah karena (katanya) tidak memeriksa kembali formulir sebelum diserahkan petugas. Mbok ya sebelum bicara itu dilihat dulu formulir yang sudah ada, jangan asal menuduh. Padahal sebelum masuk ke kecamatan, saat di rumah, di pak RT, di pak RW dan kantor kelurahan, formulirnya juga diperiksa dan dicocokkan.

Satu lagi, alasan yang disampaikan petugas adalah kami mencetak KTP berdasarkan data entry yang sudah ada. Lha kalo gitu buat apa dong disertakan formulir isian, kalo hanya tinggal cetak aja tanpa melihat data terbaru di formulir? Nah kan, akhirnya sayah jadi menyalahkan bagian data entry

Setelah bersitegang akhirnya sayah disuruh kembali dengan membawa potokopi surat nikah. Alamak.. kembali ke rumah? Padahal saya bela2in ijin keluar sebentar dari pekerjaan untuk mengurus ini, malah molor… Sayah ga pikir lama langsung berangkat dan sampe di rumah bingung mencari surat nikah yang ga ada di tempat. Kemanakah gerangan?

Oiyaa.. 2 hari yang lalu saya baru datang dari solo. Ke solo sempat membawa surat nikah yang sayah simpan di tas bagian dalam. Lah, tasnya kan tadi sayah pake ke kecamatan? Kalo tadi ingat kan ga bolak balik ke kecamatan. Hiks… gara2 terlanjur esmosih…

Saat menunggu pemrosesan KTP, saya melihat mbak2 yang mengembalikan KTP karena ada kesalahan di KTP seperti sayah. Kesalahannya pada nomer rumah. Ga lama kemudian saya menyaksikan mbak tadi dimarahi petugas katanya mengisi alamat di formulir terlalu panjang dan tidak disingkat. Akibatnya di KTP alamatnya tidak sesuai dengan sebenarnya. Mbak tadi cuma diam kemudian pergi, mungkin dia ga ingin dibuat repot petugas. Melihat ekspresinya sih melas banget, seperti mau menangis. Andaikan dia mau ngeyel seperti sayah mungkin lain lagi ceritanya

Terdengar nama sayah dipanggil, petugas memberikan KTP saya yang baru. Selanjutnya…

Loh?? Wah saya ga mau kalo KTP saya tambalan kayak gini pak. Maaf, saya mau KTP saya diganti yang baru, bukan KTP yang salah cetak tadi ditindih dengan print2an.
*Fussingg*

Sayah menunggu lagi. Ga lama kemudian jadilah KTP sayah yang baru. Petugas memberikannya tanpa bilang apa2, akhirnya saya pergi dengan mengucapkan terima kasih. Eh, petugas tadi panggil2 meminta sayah membayar KTP yang baru. Dalam hati, tadi kok diem aja pak..pak. Secara buru2, tanpa banyak omong saya langsung memberikan uang, berterima kasih dan pergi

Indonesaaah… Sebenarnya tidak perlu bersitegang kayak tadi kalo sebenarnya bisa diatasi secepatnya dan tidak saling menyalahkan, dengan syarat membayar kembali. Padahal seharusnya sayah ga perlu membayar lagi karena kesalahan cetak kan pada mereka. Ah ujung2nya duit lagi.
Cuape’ dheh..

*sekarang saya kok jadi nyesel kenapa tadi marah2 ya.. maafkan saya pak*

Posted in: Complaint