Arema Jadi Putri Solo

Posted on 25 July 2008

25


Kini resmi sudah saya menjadi putri keraton Surakarta (Solo) dengan diterbitkannya KTP Surakarta Sebenarnya saya enggan mutasi dari list kependudukan di Malang, bumi saya dilahirkan sampai orangtua melepas masa asuhan saya. Apa mau dikata, berusaha menjadi warga negara yang baik saya harus mencatatkan diri sebagai warga di tempat yang baru. Padahal sebelum migrasi ke solo saya baru saja menambah masa berlaku KTP di Malang selama 3 tahun ke depan (s/d tahun 2011). Sedangkan KTP Solo berlaku 5 tahun (s/d tahun 2013). Tiap daerah kok bisa ga sama gitu ya masa berlakunya..

Dulu saya kecewa dengan kesalahan data dalam KTP Malang. Ternyata KTP Solo lebih parah, menyangkut alamat dan data lain. Sebenarnya buat apa mengisi data serinci itu pada 2 lembar pengisian data bila hasilnya kacau balau. Ga keren pokoknya, baru sekarang saya melihat poto tercetak hitam putih (kehabisan tinta warna kali ya ) Protes? malas ah. Yang penting punya KTP Solo dan sah menjadi warga

Lihatlah layout 2 KTP beda propinsi ini:


Menjadi warga Solo secara disadari maupun tidak, lambat laun gerak-gerik saya tentu akan menyesuaikan dengan lingkungan yang sekarang. Yang terasa adalah bahasa. Awal2 datang di Solo saya belum bisa berinteraksi dengan para tetangga dalam hal bahasa. Sebagai orang Malang yang notabene terbiasa menggunakan bahasa jawa ngoko dengan teman ato paling tidak dengan inggih, mboten bila lawan bicara orang lebih tua, kini di Solo mau ga mau saya dituntut bisa berbahasa jawa alus dengan sekitar. Sering lidah ini mbliyut bila capek ato otak saya sudah blank dengan kosakata jawa alus. Kalo sudah demikian biasanya saya keluarkan senjata jitu yakni bahasa Indonesia. Beruntung para tetangga kanan-kiri-depan sudah mahfum kalo saya bukan orang jawa tulen

Btw, suami dan saya yang sama2 orang dari Jawa Timur aja berbeda logat dan pemahaman kata sehari2, sehingga sering ga nyambung Sehingga untuk saat ini bahasa sehari2 ya Bahasa Indonesia, sambil saya belajar bahasa jawa alus di Solo. Soalnya lidah saya malangan banget. Pengucapan kata sering menjadi bahan guyonan di rumah Solo. Misal kata ‘putih’ reflek saya lafalkan ‘poteh’ , sedangkan di Solo ‘puteh’, dll. Demi ga ingin jadi bahan ketawaan, otomatis jadi mengikuti kebiasaan di Solo.

Suatu ketika saat bicara di telpon dengan teman di Malang, si teman malah protes kenapa logatku jadi (men-)Solo. Dia minta supaya saya tetap bertahan dengan logat malang. Woalah, itu berarti siap2 akan menjadi bahan tertawaan di rumah Solo. Hihi… ada-ada aja. Bolehlah raga saya di Solo tapi jiwa saya tetaplah Arema, Salam Satu Jiwa! (halah)

Yang adil adalah bila sedang berada dan bicara dengan sanak kerabat di Jatim pake logat Malang, kalo di Jateng pake logat Solo, sedang kalo di Jabar pake logat Tasikmalaya (ayah orang sunda). Malah jadi reffoot…

Posted in: Lady