Buah Swalayan

Posted on 2 September 2008

14


Beberapa hari lalu saya ke swalayan terdekat (Luwes), di area dekat pintu masuk ke supermarket berjajar aneka macam buah2an segar. Ada yang sudah dikemas dalam styrofoam kedap udara maupun curah (belum dikemas). Menariknya, yang sudah dikemas relatif lebih murah daripada yang curah.

Memang harus teliti sebelum membeli bila tak ingin kecewa setelah di rumah. Kalo diamati secara detil, yang dalam kemasan sudah tidak utuh lagi. Ada yang agak pesok, sudah diiris bagian yang busuk, utuh tapi kondisi kulit yang berubah warna, maupun yang kisut. Perbedaan harganya cukup mencolok antara kemasan dan curah. Misalnya saja buah apel fuji yang harganya Rp 15rb/kg, isi = 4-5 buah, bila dikemas mencapai Rp5rb/kg bahkan beratnya lebih, tergantung tingkat kerusakan buah. Kalo hanya sedikit pesok saja, 1 kemasan isinya bisa 3-4 buah apel fuji. Namun jika ada yang berbentuk bekas irisan, 1 kemasan bisa berisi 6-8 buah, itu pun bisa bermacam2 buah, ada buah pir, jeruk, apel.


Kondisi itu saya ketahui setelah penasaran dengan mencoba membeli beberapa kemasan yang berbeda. Setelah dibuka di rumah ternyata yang kemasan isinya lebih banyak, rasanya sudah tidak segar alias hambar. Mungkin buahnya sudah lama ga laku2 tapi yang isinya 3-4 buah/kemasan rasanya masih segar, hanya saja agak pesok, mungkin abis jatuh ato tergencet. Ternyata pepatah ada harga ada rupa memang masih jitu

Menurut saya, model pemasaran di swalayan seperti itu lebih baik dari pada tidak melakukan sortir terhadap buah yang dijual seperti di hypermart malang yang harganya Rp 69 rb dalam keadaan busuk. Apalagi sistemnya adalah swalayan, pembeli bisa sedetil mungkin memilih barang yang akan dibeli. Kalo tidak, maka jangan harap akan laku. Berbeda dengan membeli buah di pasar tradisional, kebanyakan pembeli dilarang memilih2, kalo nekad biasanya yang ada malah diclathu penjual, apalagi bila sudah memegang2 ternyata ga jadi dibeli Namun bila dipilihkan penjual, setelah sampe di rumah ternyata buahnya ga beres. Hal ini pernah saya alami saat di Malang dulu

Posted in: Culinary, Health