Bertetangga

Posted on 20 June 2010

3


Konsekuensi beriman kepada Allah dan hari akhir mengharuskan seseorang untuk memuliakan tetangga dan tamunya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ). رواه البخاري ومسلم.

Artinya :

Diriwayatkan dari Abu Hurayrah –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Siapa yang beriman (percaya) kepada Allah dan Hari Akhir, maka haruslah ia berkata yang baik atau (kalau tidak) diam. Siapa yang beriman (percaya) kepada Allah dan Hari Akhir, maka haruslah ia memuliakan jiran (tetangga)nya. Dan siapa yang beriman (percaya) kepada Allah dan Hari Akhir, maka haruslah ia memuliakan tamunya. Dilaporkan oleh Imam al-Bukhory dan Muslim.

Hadits ini menerangkan tiga hal yang terkait dengan aspek akhlak dalam pergaulan sehari-hari: 
1. Sedikit bicara (menjaga lisan), 
2. Kewajiban menghormati tetangga, dan 
3. Memuliakan tamu.

Dengan tuntunan hadits ini setiap Muslim yang merasa beriman, secara otomatis akan terpanggil memenuhi tuntutan itu. Sebab kalau tidak, berarti ia tidak tergolong beriman. Tuntutan itu ialah berbicara yang baik. Setiap Mukmin bila ingin berbicara, harus memikirkan apa yang akan ia ucapkan dan dampaknya, apakah tergolong ucapan yang bernilai atau tidak. Bila ucapannya itu tak bermanfaat, ia harus diam.

Ucapan yang baik itu sangat banyak, di antaranya mengajak orang untuk mempercayai Allah Swt dan RasulNya Saw, menyampaikan kebenaran, mengingatkan orang agar tidak jatuh dalam kesalahan dan kejahatan, menyampaikan pesan-pesan Islam, memberikan informasi yang menguntungkan orang lain, mengucapkan kata-kata yang menggembirakan orang lain, menyampaikan informasi yang benar, dan masih banyak lagi.
Adapun ucapan yang tidak baik juga banyak, di antaranya: mengadu domba antara dua pihak, mengada-adakan ucapan yang tidak ada, berbohong, menggunjing orang lain, menyampaikan omongan satu orang kepada orang lain, gossip, menebar isu yang tidak benar, mendiskreditkan orang, mendiskusikan hal-hal yang dilarang, berdebat yang tidak menghasilkan manfaat, atau juga berlebihan dalam berbicara, karena yang baik, adalah berbicara seperlunya, tidak berlebihan..
Rasulullah dalam hadits ini memberi dua pilihan, kalau berbicara, harus berbicara yang baik, kalau tidak, harus memilih diam, tidak berbicara.

Ternyata dari keterangan Hadits di atas, hubungan bertetanggapun menjadi perhatian khusus dalam Islam. Hingga Rasulullah mengaitkan antara Iman dengan keharmonisan bertetangga. Logikanya, orang yang menyakiti tetangganya, Imannya dapat dipertanyakan.

Bila hadits ini mengajarkan agar memuliakan tetangga, maka menyakiti tetangga hukumnya haram dan tergolong dosa besar, yang pelakunya diancam dengan neraka, bila tidak bertaubat.

Menyakiti tetangga kadang tidak disadari kebanyakan orang. Di antaranya mengeraskan suara televisi, radio dan tape sehingga mengganggu kenyamanan tetangga. Membakar sampah di halaman rumah sendiri juga termasuk menyakiti tetangga, karena asapnya bisa ditiup angin dan masuk ke rumah orang sehingga menyesakkan pernafasan tetangga. Bau masakan yang semerbak ditiup angin dan tercium oleh tetangga dapat menyakitinya, karena ia tidak mampu membeli makanan itu. Oleh karenanya di dalam Hadits disebutkan apabila seseorang memasak masakan hendaklah ia membanyakkan kuahnya dan membaginya kepada tetangga-tetangga, agar tidak menyakiti perasaan sang tetangga.

Demikian juga penghargaan pada tamu, ternyata tidak luput dari perhatian akhlak Islam. Sebagaimana pada tetangga, Rasul Saw mengaitkan Iman seseorang dengan penghargaannya kepada tamu. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, haruslah memuliakan tamunya. Begitu isi pesan Rasul di atas.

Kenapa Islam memberi perhatian kepada tamu. Sebab, kedatangan tamu membawa berkah bagi orang yang dikunjunginya. Bagian dari memuliakan tamu adalah mempersembahkan yang terbaik untuk tamu, baik berupa makanan, minuman atau pelayanan, selama dalam batas kemampuan. Tuan rumah harus berusaha menunjukkan wajah yang ceria dan kebahagiaannya dengan kedatangan tamu. Ia tidak boleh melakukan sesuatu yang kurang etis pada tamunya. Tamu juga harus memahami kondisi tuan rumah yang dikunjungi, agar kedatangannya tidak merepotkan dan menjadi beban bagi tuan rumah. Tamu harus menerima apa yang disajikan oleh tuan rumah dan tidak membebani tuan rumah.

Sungguh indah nian ajaran Islam ini jika kaum muslim memperhatikan dan mengamalkan hadist ini.

*source: markashadits

Posted in: Islam