My Mouth is My Shame

Posted on 6 July 2010

9


Sebuah kenangan yang belum hilang dari ingatan hingga kini ketika saya masih di bangku SMU. Karenanya membuat saya masih merasakan panas dan merahnya pipi. Ah pastinya hampir semua anak muda (waktu itu) pernah melakukan kekonyolan, jadi harap maklum :P~

Seperti biasa saat musim ulangan kelas, para siswa berusaha mencari bocoran soal mata pelajaran yang akan diujikan ke kelas lain yang kebetulan jadwal ulangannya duluan. Waktu itu mata pelajaran Sejarah merupakan pelajaran umum yang dipelajari di semua jurusan termasuk jurusan eksak dan sosial.

Pada jam istirahat saya berhasil mendapatkan bocoran soal dari kelas jurusan sosial yang guru sejarahnya sama yaitu Pak Supadi. Bel berbunyi menunjukkan jam istirahat habis dan saya kembali memasuki kelas. Saya memasuki kelas dengan santai karena merasa sudah siap menjawab soal ulangan. Sebelum guru sejarah datang saya ingin membagikan bocoran soal yang saya dapatkan kepada teman-teman. Ada perasaan aneh saat memasuki ruangan.
Tumben kelas tidak berisik seperti biasanya teman-teman masih ada yang komat-kamit menghafal materi dengan bersuara. Namun saat itu suasana begitu tenang, sehingga ucapan saya saat mengumumkan bocoran soal terdengar hingga penjuru kelas.

“Rek, soale mek loro”, teriak  saya. (Teman-teman, soalnya cuma dua)

Tapi sebelum saya melanjutkan soal apa yang keluar nanti, tiba-tiba dari pojok kelas berdiri dari duduknya, seorang pria berkacamata tebal sambil tersenyum pada saya. Mendadak tubuh saya gemetar disertai rasa campur aduk, takut, kaget, malu dan sebagainya.

“P..pakk Su..Supadi..?” tergagap saya bicara.

“Lho.. kok diam, lanjutkan pengumuman soal ulangannya..”, Beliau berkata masih sambil tersenyum. 

Tanpa babibu saya langsung ngeloyor ke tempat duduk saya, tepat di depan tempat duduk Pak Supadi tadi. Tidak lama kemudian beliau mendiktekan soal ulangan dan saya mengikuti ulangan masih dengan suasana hati tidak karuan.

Tiba-tiba Pak Supadi berkata,”Soale mek loro, Rek!”

Gerr… hahahhaha… pecahlah tawa semua orang dalam kelas, termasuk saya. Entah sengaja atau tidak ternyata jumlah soal memang 2 butir, tapi beda isinya. Untungnya Pak Supadi terkenal sebagai guru yang sabar dan lucu namun tegas. Saat ulangan berlangsung saya sempat menangkap senyumannya pada saya. Dalam hati saya berjanji ga akan ‘ndablek’ lagi…
Posted in: Intermezzo, Lady