Housewife (2)

Posted on 30 September 2010

5


Profesi sebagai ibu rumah tangga janganlah dinilai secara materi. Pekerjaan yang dianggap remeh sebagian orang ternyata tidak sederhana seperti dalam bayangan saat menjalaninya. Selama menjadi ibu rumah tangga lebih dari 3 tahun ini, ternyata memang benar pekerjaan rumah tangga membutuhkan profesionalisme berupa keahlian, pengetahuan dan keterampilan sama dengan pekerjaan kantor lainnya. Jika di kantor hanya kebagian tugas mengurusi satu bagian, ternyata di rumah tugasnya tidak hanya satu bagian, melainkan wajib berperan multiguna sebagai direktur, manajer, sekretaris sekaligus pekerja, yang tidak hanya bisa memahami, tapi juga harus bisa menguasai semua bagian. Letih? Tentu saja..

Apalagi bila hidup terpisah jauh dari orang tua dan saudara, terutama dalam perantauan yang hidup dalam lingkungan baru yang awalnya asing, mau tidak mau harus bisa bersahabat. Keuletan dan kesabaran dibutuhkan ekstra besar. Jika tidak demikian, hari-hari terasa menyiksa dan menjemukan.

Alhamdulillah, saya merasa beruntung mempunyai suami yang tidak mewajibkan saya mencari nafkah di luar rumah. Bagi beliau, urusan nafkah menjadi kewajibannya. Cukuplah istri di rumah, menggali dan mengembangkan potensi dengan tidak berhenti berkarya dan mencari ilmu terutama ilmu dinul islam. 

Tujuannya tidak lain supaya tetap terjaga diri dan kehormatan istri sebagai muslimah yang semua dipertanggungjawabkan pada presiden direktur yaitu suami juga pada bagian komisaris tertinggi yaitu Alloh swt. Setidaknya prestasi berupa pahala tak terhingga dari Alloh swt. Juga bonus berupa surga jika patuh pada suami yang sholih. Insya Alloh. Amiin.. 

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Maha agung nama Tuhanmu yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia (QS.55:77-78)

Begitu banyak nikmat Alloh yang telah saya rasakan. Namun mengapa saya masih sering berkeluh kesah? Astaghfirulloh..

Posted in: Oase