Tebang Pilih Syariat Islam

Posted on 30 October 2010

13


Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. [Al Baqarah : 208]

Setiap orang tentu mempunyai hak dan kewajiban atas dirinya. Misalnya hak untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya disertai kewajiban untuk membayar biaya SPP demi kelangsungan pendidikan yang ditempuhnya.

Dalam urusan agama tidaklah berbeda, ada hak dan kewajiban yang seharusnya dia dapatkan. Namun kenyataannya sebagian orang mengambil ajaran dan hukum islam yang hanya menguntungkan dirinya saja. Dengan kata lain mengutamakan hak-hak dia dalam aturan agama, sedangkan kewajiban dalam agama sebagai muslim/muslimah dikesampingkan. Padahal ayat di atas menyerukan untuk mengikuti syariat islam secara keseluruhan.

Alkisah, Seorang anak laki-laki yang menuntut pembagian harta orang tuanya sedangkan orang tuanya masih hidup. Pembagian harta pun diminta sesuai hukum islam yakni mendapatkan 2x anak perempuan. Ironisnya, dia tidak berbakti dengan memperhatikan kebutuhan orang tuanya padahal sebenarnya dia mampu menafkahi ibunya.

Lebih parah lagi, ada anak yang menuntut segera pembagian warisan di saat tanah kuburan orang tuanya masih basah, meskipun dalam hal pembagian warisan diperintahkan untuk disegerakan. Padahal selama orang tuanya hidup tidak pernah sedikitpun menjenguk bahkan merawat. Naudzubillah mindzalik..

Sebaliknya, ada orang tua yang cenderung menuntut anaknya untuk memenuhi semua kebutuhannya dengan alasan menagih jasa karena orangtuanya dulu telah merawat dan menyekolahkan anaknya itu. Kalau ditelaah secara hukum islam, seharusnya sudah menjadi kewajiban orang tua untuk memelihara amanah anak dari Allah. Meskipun islam mengajarkan seorang anak hendaknya birrul walidain (berbakti pada orang tua).

Lagi, Seorang suami yang menuntut haknya pada istrinya supaya ini itu namun kewajiban sebagai suami dia lupakan. Juga sebaliknya, seorang istri yang mengajukan segala tuntutan kepada suaminya namun dia sendiri tidak melayani suami dengan baik. Sehingga yang terjadi adalah suami yang ringan tangan ataupun istri yang otoriter. Kalau masing-masing tidak saling introspeksi (muhasabah) maka selanjutnya kehancuran rumah tangga sudah di depan mata. Naudzubillah mindzalik..

Seorang laki-laki yang melakukan poligami dengan alasan poligami disebutkan dalam Alquran, namun praktiknya dia tidak berlaku adil. bahkan menyia-nyiakan istri-strinya. Yang terpenting adalah hendaknya perempuan muslimah tidak membenci poligami karena membenci berarti dia telah mengingkari ayat Allah.

Ilustrasi-ilustrasi di atas adalah contoh kecil yang sering terjadi di sekitar kita. Islam sangat lengkap dalam mengatur kehidupan umatnya, dari yang sepele hingga yang kompleks. Jika setiap muslim melaksanakan ajaran Islam secara keseluruhan (kaffah) seperti yang diajarkan melalui rosulnya– Muhammad saw dan para shalafushsholih maka kebaikan dunia akhirot ada dalam genggaman. Ajaran islam ini dapat diperoleh melalui tarbiyah yang salah satunya dengan mengikuti majelis ilmu. Marilah berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabikhul khoirot). Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Posted in: Islam