>Much Talk, Many Lie

Posted on 24 January 2011

3


>

Dari Abu Hurairah Rådhiyallåhu ‘anhu berkata, bahwa rasulullah shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam.”
[HR. Al-Bukhari dalam al-Adab hadits (6018) dan Muslim hadits (47).]

“Rasulullah Shållallåhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di akhirat nanti adalah orang yang paling jelek akhlaknya, orang yang banyak bicara, orang yang berbicara dengan mulut yang dibuat-buat dan orang yang sombong…”
[Shahih al-Jami’ash-Shaghir no. 1531]

Suatu kali Sufyan bin Abdillah at-Tsaqafi Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berkata:
“Wahai rasulullah, beritahukan kepadaku sesuatu yang dapat aku jadikan sebagai pegangan hidupku!


Beliau berkata:
“Katakanlah, Tuhanku adalah Allah kemudian beristiqamahlah!”

Aku berkata lagi:
“Wahai rasulullah apa yang paling engkau takutkan terhadap diriku?’

Beliau mengeluarkan lidahnya kemudian berkata, Ini.”
[HR at-Tirmidzi dalam az-Zuhd hadits (2410) dan Ahmad 3/413]

Terjadinya lisan seseorang menghamburkan kata-kata kasar, menyakitkan, jorok, dan sia-sia, semua itu, tidak bisa tidak, bersumber dari hati yang tidak beres. Seseorang yang hatinya tidak selamat akan sangat sulit mengendalikan lisannya. Apa saja yang terlihat di depan matanya niscaya akan membuat lidahnya gatal untuk segera berkomentar, terlepas dari komentarnya itu bermutu atau tidak, bermanfaat bagi dirinya atau tidak, ada yang mendengarkan atau tidak. Jelas, tak akan pernah disadari bahwa perkataaanya mungkin bisa sisa-sia.

Bahkan tidak jarang pada akhirnya sang lisan jadi tergelincir ke dalam perbuatan ghibah karena hanya gemar menyelisik kekurangan dan aib orang lain. Bilapun perkataannya didengar oleh orang yang dinilainya, maka jadilah ia perkataan yang menganiaya dan menyakiti perasaannya. Bahkan tidak jarang pula lebih meningkat lagi daripada itu, yakni fitnah! Padahal, sungguh pandangan manusia itu amat terbatas untuk menilai kebaikan atau keburukan seseorang.

Lisan yang banyak mengeluarkan perkataan sia-sia biasanya banyak mengandung kebohongan. Berkata bohong dan mengada-akan cerita bohong ini  seringkali ditemui di sekitar kita. Yang amat parah jika perbuatan lisan itu sudah menjadi kebiasaan dan dianggap wajar. Padahal demikian itu sesungguhnya telah menciptakan kerusakan. Satu kebohongan akan menutupi kebohongan yang lain. Jika suatu saat lidah dan hati tidak bekerjasama untuk berbohong (keceplosan), maka akan ketahuan bahwa yang dikatakan terdahulu adalah kebohongan. Namun masih saja untuk menutupi kesalahannya itu harus ditebus dengan kebohongan baru, bukannya insyaf dan istighfar. Naudzubillah mindzalik.

Oleh karena itu, lebih baik menyibukkan diri dengan memperbaiki kekurangan yang ada dalam diri sendiri hingga lupa memperhatikan kekurangan orang lain. Sesungguhnya Allah tidak menciptakan kita dengan sempurna lagi terpelihara dari kekurangan, bahkan kita semua mempunyai dosa dan kekurangan. Beruntunglah orang yang sibuk memperbaiki kekurangan dirinya hingga melupakan kekurangan orang lain.

Ada doa yang yang diajarkan Rosullullah agar kita terhindar dari lisan yang tidah terjaga. Semoga kita menjadi umatnya yang selalu menjaga hati, lisan dan perbuatan. Amin..

Diriwayatkan, bawha Ibnu Abbas Radhiyallu ‘anu berkata:
“Nabi Shallallahu ‘alai wasallam berdo’a.”
Ibnu Abbas menyebutkan lafazh do’a beliau hingga ucapannya:

“Ya Allah terimalah taubatku, terimalah do’aku, kuatkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku, jagalah lisanku dan hilangkan rasa dengki dari hatiku.
[HR Abu Dawud dalam ash-Shalah hadits (1510) dan Ahmad 1/227.]



*Dinukil dari berbagai sumber
Posted in: Islam