>Searched The Mosque

Posted on 30 March 2011

9


>

Mencari masjid, namun bukan untuk sholat atau menghadiri majlis ta’lim. Ya, umumnya ke masjid tentu bila waktu sholat telah tiba. Di manapun berada wajib mendatangi masjid, tak peduli kaya atau miskin, wajah rupawan atau tidak, tua atau muda, semua berkumpul dalam barisan shof yang rapi menghadap kiblat untuk menjalankan sholat. Begitulah hendaknya bila orang  menyebut dirinya muslim.
 
Ada fenomena lain, saya menemukan kenyataan ada segelintir, 2 gelintir, maupun banyak gelintir, orang yang mencari masjid bukan untuk beribadah sholat. Melainkan hanya untuk mendapatkan ‘pengakuan’ yang sebenarnya bertentangan dengan kebiasaannya sehari-hari.

Sebut saja paklik Paijo, dia mendatangi sebuah masjid di kampung dekat sungai Bengawan Solo dengan tujuan meminta ‘surat keterangan’ sebagai pengantar ke rumah bersalin karena istrinya akan melahirkan. Surat tersebut berfungsi sebagai ‘surat sakti’ yang akan membebaskan istrinya dari biaya persalinan. Dalam surat tersebut harus tercantum bahwa paklik Paijo benar-benar jamaah masjid yang bersangkutan. Entah apa maksud rumah bersalin tersebut menghendaki demikian. Sang takmir masjid berhusnudzon bahwa rumah bersalin milik yayasan Islam itu ingin mendapatkan data bahwa pasiennya benar-benar seorang muslim, meski paklik paijo belum pernah sekalipun ke masjid.
Ada lagi pakde Bejo, suatu ketika dia mendatangi masjid dengan tujuan yang sama dengan paklik Paijo. Bedanya surat sakti itu disyaratkan oleh sebuah instansi pendidikan. Anak pakde Bejo akan memasuki tahun ajaran baru di sebuah sekolah Islam dan akan mendapatkan keringanan biaya bila membawa surat pengantar dari masjid. Lagi-lagi takmir masjid berhusnudzon bahwa surat itu hanya sebagai keterangan yang bersangkutan beragama Islam.
Mungkin anda bertanya-tanya, mengapa instansi-instansi tersebut harus mensyaratkan surat keterangan dari masjid, bukan dengan dengan KTP sebagai bukti identitas yang diakui negara?
Saya warga resmi kota ini sejak 3 tahun lalu, baru mengetahui banyak warga masyarakat di sini bernotabene Islam KTP. Iya, dalam KTP atau Kartu Keluarga (KK) mereka beragama Islam namun mengikuti kebaktian di hari minggu. Mereka pun menikah secara islam, dengan maksud hanya untuk memudahkan dalam melegalkan hubungan, ini menurut pengakuan mereka. Proses pernikahan islam lebih simple dibanding dengan pernikahan non Islam. Setelah menikah mereka kembali melakukan kebiasaan ke gereja.
Mungkin inilah yang menjadikan beberapa instansi memberlakukan surat pengantar dari masjid bahwa mereka adalah jamaah masjid dengan perantara takmir sebagai tetangga mereka lebih mengetahui yang bersangkutan Islam atau bukan, ya meskipun tidak kelihatan ke masjid entah dia sholat di rumah atau malah tidak sholat, namun mengetahui kebiasaannya di kampung. Sang takmir tentu saja akan memberikan surat keterangan yang mereka minta jika memang yang bersangkutan ‘orang islam’.
Sungguh ironis, mencari masjid hanya untuk mendapatkan surat pengakuan bahwa dirinya muslim namun memakmurkan masjid dengan melakukan sholat berjamaah saja tidak mau (wajib bagi laki-laki) . Semoga saya dan keluarga serta anda terhindar dari hal yang demikian.
Memang benar urusan ibadah misalnya sholat adalah tanggung jawab yang bersangkutan dengan Allah saja. Manusia tidak bisa menilai sebatas pandangannya. Namun sebagai sesama muslim kita hanya bisa mengingatkan dan mengajak saudara kita untuk menjalankan syariat yang diajarkan guru kita Rosulullah SAW.
Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang letaknya dimana bila waktu azan lohor engkau masuk kedalamnya
engkau berjalan sampai waktu ashar, tak kan capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu, bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini yang besar luar biasa
Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang beranda dan ruang dalamnya tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalaupun ada pertikaian bisalah diuraikan
dalam simpul persaudaraan sejati dalam hangat sajadah
yang itu juga terbentang di sebuah masjid yang sama
Tumpas aku dalam rindu. Mengembara mencarinya
Dimanakah dia gerangan letaknya?

Cuplikan puisi ‘Mencari Sebuah Masjid’

Oleh Taufiq Ismail
Posted in: Islam, Solo