Mbah Ndoro

Posted on 16 February 2012

0


<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>
Suatu hari saya belanja keperluan bumbu dapur di warung sayur langganan. Sambil menimbang bawang merah, ibu penjual mengeluh tentang cuaca yang tidak stabil. Katanya, dalam sehari panas, angin dan hujan silih benganti. Saya hanya tersenyum datar, ingin rasanya bilang bahwa segalanya sudah ada yang mengatur. Diam saat itu adalah lebih baik, menurut saya sih, mengingat karakter si ibu yang terkenal galak.
Dia meneruskan bicara tentang cuaca lagi saat menimbang bawang putih. Kali ini saya lega karena dia bilang masih beruntung tidak diberi banjir meski tempat tinggal berada dekat sungai bengawan. Dalam hati saya menebak si ibu bermaksud meralat atas ucapannya tadi. Ternyata tebakan saya salah.
“Asal adik tahu ya, di sini bebas dari bencana terutama banjir karena pertolongan MBAH NDORO. Kalau bukan karena dia daerah ini tidak bisa dihuni lagi karena sudah menjadi proyek tanggul bengawan solo oleh pemerintah”
“Mengapa begitu bu?” Tanya saya.
“Karena MBAH NDORO melindungi kita dari segala musibah, dengan syarat mengadakan selamatan pada malam 1 syuro. Sehingga sampai sekarang tradisi selamatan itu hukumnya WAJIB, kalau perlu mengadakan wayangan. Adik kemarin ikut kan?”
Saya hanya diam, no comment. Setelah semuanya kelar dan membayar total belanja saya segera menghilang dari hadapannya. Ampuni hamba ya Alloh, iman saya lemah, hanya bisa melawan dalam hati. Mulut hamba tidak kuasa untuk memberikan pencerahan pada ibu tadi.
bubur syuro yang dibagikan ke penduduk
Tahukah MBAH NDORO yang dimaksud ibu tadi? Itu adalah nama MAKAM  (keluarga) yang diyakini keramat dan bisa mewujudkan segala keinginan.
Fenomena yang pernah saya ketahui berhubungan dengan makam tsb:
– tanah makam dipakai warga untuk ritual sumpah
– bernazar atas nama makam tersebut, jika keinginan terwujud maka wajib selamatan di area makam
Advertisements
Posted in: Solo